Humanity and Religion: Teman atau lawan?


Image result for shaking hands

Kemanusiaan dan agama, bagi sebagian orang merupakan kata yang saling menarik satu sama lainnya dan berjalan ke arah yang sama. Namun bagi sebagian orang lainnya menganggap bahwasanya posisi keagamaanya berada diatas apa yang dinamakan kemanusiaan, ibarat sebuah lingkaran konsep, agama merupakan konsep yang lebih besar, dan membawahi apa yang dinamakan dengan kemanusiaan. Dengan kata lain kontrol atas tindakan yang sifatnya manusiawi berada dibawah kendali agama. Tindakan yang dilakukan atas dasar manusiawi apabila tidak koheren dengan apa yang diajarkan oleh agama maka tindakan tersebut patut untuk dihentikan. Benarkah demikian? Bagaimanakah sikap kita sebaiknya dalam menyikapi kedua hal tersebut? Apakah ada relevansi diantara kedua frasa tersebut? Ataukah memang keduanya adalah hal yang terpisah dan tidak dapat disatukan? Saya selaku penulis akan berusaha menelaah kedua topik tersebut berdasarkan beberapa sudut pandang yang saya gunakan.

Pertama-tama yang perlu kita ingat bahwasanya kedua hal tersebut berupaya untuk mencapai tujuan yang sama. Saya menyebutnya sebagai suatu “kebahagiaan”, “ketenangan”, dan “perdamaian”. Tentu saja terdapat sebuah distingsi diantara keduanya, dimana ketika kemanusiaan pencapaiaanya adalah kepada sesamanya, sementara agama melibatkan suatu hal yang sifatnya transenden kepada sang pencipta. Apakah keduanya tidak dapat terintegrasikan satu sama lainnya? Menurut saya pribadi itu bukanlah hal yang mustahil, dikarenakan ajaran dari agama itu sendiri yang secara implisit juga dapat dikatakan sesuatu yang manusiawi, sehingga dapat dikatakan terdapat suatu relevansi antara kedua hal tersebut.

Lantas mengapa khalayak ramai seringkali mempermasalahkan dan mempertentangkan keduanya terutama di era digital seperti saat ini, seringkali ketika kita membuka berbagai platform media sosial, kita dihadapkan dengan hal-hal yang seperti ini. Hal tersebut terjadi menurut asumsi saya karena adanya kesalahan dalam pengimplementasian keduanya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu contoh yang dapat saya ambil adalah larangan pengucapan hari valentine, natal dan tahun baru. Hal tersebut mengundang pro dan kontra dikalangan masyarakat, satu pihak mengatakan oke tidak masalah namun pihak lainnya mengatakan tidak dengan berlandaskan atas dalil agamanya masing-masing. Permasalahan tersebut cukup menganggu keharmonisan sosial yang ada di negara ini, lantas sebaiknya langkah seperti apa yang seharusnya kita lakukan agar ketentraman ini dapat kita rawat?

Menurut sudut pandang saya pribadi kita lebih baik diam. Jangan mempropagandakan atau menyerukan kampanye seperti “I believe x as my religion then say no to valentine” atau “saya tidak diperbolehkan mengatakan ucapan natal dan hari raya lainnya selain apa yang saya yakini”. Bisa dipahami apabila seruan untuk tidak mengucap atau merayakan memang perintah suatu agama, tetapi apa yang perlu di highlight disini adalah tidak mengucap atau merayakan bukan berarti mempropagandakannya kepada orang-orang diluar sana, saya kira hal itu merupakan sesuatu yang bertentangan dengan prinsip kemanusiaan itu sendiri. Coba kita pahami dari sudut pandang yang berlawanan atau secara lateral, apabila ada orang lain yang mengatakan secara terang-terangan menolak perayaan hari besar agama anda, apa yang anda rasakan? That’s how the humanity works. Oke ada aturan agama mengenai hukum mengucapkan selamat kepada perayaan hari besar agama lain, akan tetapi tidak menjadi suatu kewajiban bagi kita untuk secara terang-terangan mengatakan tidak. Anda bisa lakukan amalan itu dengan diam saja dan tidak ikut mengucapkan, orang diluar sana pun pasti akan paham mengapa anda diam dan tidak ikut mengucapkan, karena mengucapkan kepada selainnya bukanlah suatu kewajiban. Sama halnya ketika kita memaksa seseorang untuk mengucapkan hal itu juga bertentangan dengan hak asasi
manusia itu sendiri.

Perlu diingat bahwasanya saya tidak mengatakan untuk menjadi seseorang yang manusiawi harus meninggalkan apa yang dinamakan agama tetapi fokus saya hanyalah kepada bagaimana pengimplementasiannya terhadap kehidupan bermasyarakat. Perlu diingat pula bahwasanya Indonesia terdiri atas berbagai macam suku bangsa agama dan kepercayaan, apabila kita tidak memperhatikan nilai kemanusiaan dengan semestinya maka keharmonisan sosial yang ada di negeri ini dapat terganggu, bahkan terpecah belah. Saya yakin bahwasanya agama juga mengantarkan kita kepada nilai kemanusiaan itu sendiri, tinggal kembali lagi kepada tiap individunya bagaimana cara menginterpretasikan dan mengamalkannya. Menjadi orang religius dan taat terhadap aturan-aturan dalam agama boleh, tetapi perlu diingat bahwasanya aturan agama akan menjadikan seseorang tidak hanya patuh secara transenden kepada sang pencipta namun juga menghargai manusia sesamanya atau dalam Bahasa lain manusiawi.

Comments

Popular posts from this blog

Manusia dan Covid-19

About Me