Manusia dan Covid-19

Pandemi Corona: sebuah jalan menuju 'kehidupan yang baru’

hiking-hiker-standing-mountain-top-1024×682 – PEGIPEGI TRAVEL BLOG
https://www.pegipegi.com/travel/wp-content/uploads/2016/02/hiking-hiker-standing-mountain-top-1024x682.jpg


Pandemi corona merupakan wabah yang sedang manusia hadapi secara serentak saat ini, Seluruh aktivitas sosial manusia mulai beradaptasi untuk menghadapi wabah yang masif dan menghantui manusia selama beberapa bulan terakhir.
Phyical distancing dikatakan menjadi sebuah jawaban untuk ‘membantu’ kita umat manusia untuk memerangi dan melewati ‘badai’ yang sedang berlangsung ini, segala kegiatan yang sifatnya sosial dan dalam skala yang banyak ‘terlimitasi’ oleh jarak akibat penerapan physical distancing ini. Sekolah, konferensi, seminar, bahkan sampai tindakan yang bermotif ekonomi pun banyak yang ‘terhambat’ karena perlu di alihwahanakan ke sistem daring. Kita sedang menghadapi ‘sebuah arena yang baru’ lantas apakah kehidupan manusia dan sosial dimasa sekarang akan bertahan untuk kedepannya? Ataukah kita akan tetap kembali ke kehidupan seperti yang telah berlalu?
Mengutip artikel Yuval Noah Harari pada financial times, dikatakan bahwasanya “badai akan berlalu, dan kemanusiaan akan bertahan, kebanyakan dari kita akan tetap hidup. Tetapi kita akan menghidupi dunia yang berbeda[1]”. Ia memprediksikan bahwasanya kehidupan sosial manusia akan menjadi ‘berbeda’ akibat dari pandemi virus corona ini. Ada dua ‘jalan’ partikular yang dapat ditempuh yang pertama antara pengawasan secara total dan pemberdayaan masyarakat, yang kedua antara isolasi nasionalis dan solidaritas global.

Solidaritas secara global merupakan ‘jawaban’ yang diharapkan untuk kehidupan sosial manusia di masa mendatang, dimana masyarakat saling bahu-membahu dan membantu satu sama lainnya, negara ‘kaya’ dengan pemasukannya diharapkan dapat membantu dan memfasilitasi negara yang ‘kekurangan’. Masyarakat juga perlu diberdayakan dengan edukasi yang memadai. Dengan demikian dimasa mendatang publik akan lebih memilihi fakta-fakta yang bersifat saintifik dibandingkan dengan berita yang bermuatan politis. Sebagai contoh mengutip kembali pada artikel yang ditulis Yuval Noah Harari,

A self-motivated and well-informed population is usually far more powerful and effective than a policed, ignorant population.

Populasi atau sekumpulan orang yang teredukasi dengan baik biasanya jauh lebih ‘kuat’ (berpengaruh) dan efektif dibandingkan dengan sekumpulan orang yang ‘tidak peduli’ dan ‘terikat aturan’. Pada abad ke 19 ilmuwan menemukan pentingnya mencuci tangan dengan sabun, yang mana pada masa sebelumnya dokter dan perawat pun apabila melakukan operasi satu ke operasi lainnya mereka tidak mencuci tangan dengan sabun. Sekarang, milyaran orang mencuci tangan mereka bukan karena mereka takut terhadap ‘aturan mengenai cuci tangan’ tetapi karena mereka memahami fakta saintifik bahwasanya mencuci tangan dengan sabun dapat menghidarkan bakteri dan virus yang dapat menyebabkan penyakit.

Kembali kepada topik bahwasanya kondisi sekarang ini melimitasi manusia untuk berinteraksi secara langsung. Dimana penerapan physical distancing yang melarang adanya ‘perkumpulan’ karena beresiko dapat menularkan covid-19. Sebagai penutup, manusia merupakan makhluk sosial yang tidak bisa dipisahkan dari kata kerja ‘interaksi’. Kebijakan mengenai physical distancing tentunya mempersempit ‘ruang gerak’ manusia dalam bersosialisasi, namun bukan berarti kita memutus hubungan sosial dengan yang lain. Adanya wabah covid-19 ini bukanlah semata hal yang pure evil karena disetiap sesuatu yang evil pun terdapat good dalam jumlah yang sedikit. Diharapkan setelah wabah ini selesai sinergi antar tiap manusia dapat terjaga serta kerjsama yang telah dilalui oleh setiap kelompok masyakat dapat terawat. Tentunya wabah ini mengajarkan kepada kita umat manusia secara tidak langsung arti dari kemanusiaan itu sendiri, keep socially connected.



[1] Yuval Noah Harari: the world after coronavirus, https://www.ft.com/content/19d90308-6858-11ea-a3c9-1fe6fedcca75 diakses pukul 16:31 tanggal 5 april 2020

Comments

Popular posts from this blog

About Me

Humanity and Religion: Teman atau lawan?