Filsafat di Era Ilmiah


Related image
http://kuliah.unpatti.ac.id/mod/page/view.php?id=9
Ketika membahas mengenai filsafat, umumnya orang-orang akan berpendapat bahwa filsafat ialah ilmu yang mengawang-awang, terbang bebas tanpa pijakan atau mungkin tanpa destinasi yang jelas. Untuk menjawab suatu pertanyaan mengenai suatu fenomena kebanyakan orang akan berpegang teguh kepada jawaban dari ilmu pengetahuan, dan meninggalkan apa yang dinamakan dengan filsafat. Ditambah dengan dogma yang dipropagandakan di masyarakat bahwasanya filsafat adalah ‘barang’ terlarang yang lebih baik untuk tidak disentuh sama sekali.

            Tidak hanya itu, ilmuwan seperti Stephen hawking pun di dalam bukunya The Grand Design, telah mengklaim bahwasanya filsafat itu ‘mati’[1]. Fungsi filsafat sebagai discovery mengenai alam semesta sudah dilucuti oleh fisika. Yang mana fisika dapat menjelaskan serangkaian peristiwa fisik yang terjadi ditambah dengan astronomi yang dapat menjelaskan proses-proses yang terjadi di alam semesta. Lantas apakah benar bahwasanya filsafat itu ‘mati’ ? atau dalam kata lain, Fungsi filsafat di era ilmiah ini sudah tidak ada lagi?

            Saya dapat katakana dengan tegas bahwasanya filsafat tidak mati bahkan tidak akan bisa mati. Saat ini mengkalibrasikan posisinya kembali, meposisikan dirinya sebagai second order discipline (disiplin lapis kedua). Lapis ini berfungsi sebagai evaluasi atas observasi dan abstraksi yang dilakukan oleh first order discipline. Perlu juga diingat bahwa sejatinya filsafat merupakan aktivitas yang tidak dieksklusifkan untuk para filsuf semata. Setiap orang yang melakukan kegiatan berpikir secara filosofis pun dapat dikatakan berfilsafat. Landasan-ladasan yang ada dalam setiap teori pun tentu terkandung nilai filosofis didalamnya.

            Perlu diingat pula bahwa gelar tertinggi yang diberikan pada lulusan program doktoral di luar negeri ialah PhD atau Ph.D[2]. mengapa demikian?, dikarenakan lulusan program doktoral diasumsikan telah ‘berfilsafat’ pada bidang yang ditekuninya. Tidak hanya sebatas pada gelar, saat kita membuat kajian akademis atau karya tulis ilmiah, kita diharuskan untuk bisa berpikir secara holistik (umum/luas) dan tentunya dapat mengabstraksikan apa yang kita jadikan sebagai objek penelitian kita.

            Tidak hanya itu, ketika kita membahas sesuatu yang tidak terlihat secara fisik seperti keadilan, emosi, kepercayaan, dsb. Diperlukan pendekatan yang bernama metafisik. Filsafat mampu membahas segala hal yang bersifat metafisik bahkan pertanyaan fundamental yang mendalam, sementara ilmu pengetahuan terikat oleh keteraturannya sendiri seperti sifat empiris, tidak boleh spekulatif, dsb.

            Sehingga dapat disimpulkan bahwa filsafat tentu berperan terutama di era ilmiah saat ini. Kemajuan akan teknologi, serta peran artificial intelligence sudah tersebar dimana-mana, banyak pekerajaan yang akan tergantikan oleh mesin atau robot yang memiliki ‘kecerdasan buatan’. Namun, perlu anda garis bawahi bahwa satu-satunya hal yang tidak dapat digantikan oleh mesin ialah critical thingking manusia itu sendiri[3]. Dan seperti yang kita ketahui bahwa filsafat lah yang mengajarkan hal itu, filsafat lah yang melatih kita agar dapat berpikir secara filosofis, memiliki landasan yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.



[1]Stephen Hawking & Leonard Mlodinow. 2010. The Gand Design (New York: Bantam Books), Hal.1
[2] A history of the university in Europe: Universities in the Middle Ages. Cambridge University Press. 2003. ISBN 978-0-521-36105-7.
[3] Sri Mulyani. https://www.cnbcindonesia.com/tech/20191003125600-37-104150/sri-mulyani-beberkan-kerjaan-yang-tak-bisa-digantikan-robot. Diakses pukul 17:55

Comments

Popular posts from this blog

Manusia dan Covid-19

About Me

Humanity and Religion: Teman atau lawan?