Joker dan 'Tamparannya' pada Kehidupan Masyarakat Dewasa ini
![]() |
| https://www.imdb.com/title/tt7286456/ |
Secara garis besar film ini
menceritakan kisah seorang komedian yang gagal bernama Arthur Fleck yang mana
kisah ini melatarbelakangi perubahan yang besar dalam kehidupannya menjadi
seorang ‘Joker’ seorang serial killer yang
sadis dimana kebanyakan dari kita berpendapat bahwa sang ‘Joker’ ini tidak
memiliki hati nurani dan moral sama sekali.
Mengapa bisa perubahan yang begitu signifikan
ini terjadi? Di dalam film itu diceritakan bahwa Arthur merupakan pengidap mental disorder[2] (kelainan
mental/gangguan terhadap mental). Spesifiknya ia merupakan pengidap PBA (Pseudobulbar affect) yang diakibatkan
dari kerusakan otak yang dialaminya. Apakah PBA itu? PBA merupakan kondisi
dimana seseorang secara tiba-tiba tidak bisa mengontrol tawa & tangisnya[3],
hal ini membuat Arthur seringkali tertawa di keadaan yang tidak tepat seperti
yang di tunjukan di dalam beberapa scene di film, dimana ia seringkali tertawa
yang mana tawanya itu kemudian malah menunjukan kesalahpahaman yang akhirnya
berujung kepada konflik.
Kehidupan
yang dialami oleh Arthur tidaklah sebahagia seperti badut yang ada didalam
pikiran kita, yang selama ini kita kenali bahwa karakter badut ialah penuh
tawa, ceria, dan selalu siap untuk menghibur. Film ini merupakan sebuah total turnback dari suatu karakter
seorang badut yang diilustrasikan
dengan adegan kekerasan secara eksplisit yang dialami oleh Arthur selama
mengerjakan profesinya, ia seringkali menghadapi kekerasan secara fisik.
Film
ini menurut saya pribadi sangat menjelaskan namun secara implisit bagaimana kehidupan
kita saat ini. Hal ini merupakan tamparan keras terhadap isu kesehatan mental
yang masih ditinggalkan, dan dianggap tidak begitu penting oleh kebanyakan
manusia. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan oleh beberapa pemicu, yaitu sikap
tradisional sebagian kelompok masyarakat. Saya seringkali menemukan seseorang
yang mengalami mental Illness dan membagikan
ceritanya (di media sosial), mereka sering kali diasumsikan tidak dekat dengan
tuhan, atau tidak memiliki pegangan religi yang jelas[4]. Padahal,
tidak ada korelasi yang begitu jelas antara religiusitas seseorang dengan
penyakit mental yang dideritanya, saya memang setuju bahwa agama merupakan salah
satu dari sekian jalan yang dapat ditempuh untuk melepaskan kelelahan yang
bersifat emosional, dengan kita berdoa, beribadah terhadap yang maha kuasa akan
memberikan efek ketenangan hal ini tentu ada kaitannya dengan SQ seseorang, namun. Tidak menutup
kemungkinan bahwa seseorang yang sangat religius pun dapat terkena mental illness. Belum lagi pemikiran
masyarakat yang konservatif yang mempercayai adanya guna-guna atau kerasukan,
terkadang mereka yang menderita gangguan jiwa pun dianggap pengaruh dari guna-guna
juga makhluk jahat yang tidak terlihat yang dinamakan iblis[5]. Kebanyakan
orang juga cenderung menjauhi mereka yang mengidap penyakit mental dikarenakan
sikap yang aneh dan tidak normal bagi mereka. Hal-hal yang sifatnya
diskriminatif seperti diatas lah yang sebenarnya ‘berbahaya’, dikarenakan tindakan
tersebut berdampak kepada keinginan para pengidap mental untuk mengakhiri hidupnya
karena merasa tidak diterima oleh masyarakat dan kehadirannya dalam dunia ini
tidak dibutuhkan atau dapat kita kenal dengan istilah suicide.
Tidak
sedikit pula orangtua yang melarang anaknya untuk pergi ke psikolog dan psikater
dikarenakan persepsi mereka bahwa “ketika anda pergi ke psikolog maka dapat dipastikan
bahwa anda gila” hal ini tentu saja keliru, mengigat yang dapat mengetahui
secara detail kondisi kesehatan mental kita ialah mereka yang ‘expert’, siapalagi kalau bukan psikolog
dan psikater. Data riset juga menunjukan bahwa 91% penderita depresi tidak
berobat[6]. Hal
ini tentu ada kaitannya dengan apa yang telah saya paparkan sebelumnya. Namun, di
sisi tenaga medis juga terdapat kendala yaitu kurangnya kapasitas dalam upaya
menangani masalah mental health. Hanya
terdapat 1.563 tenaga psikologi klinis di seluruh Indonesia, dan 1 psikater bisa
melayani 300-400 ribu orang[7].
Hal
ini tentu saja merupakan sebuah tugas besar bagi pemerintah terkhusus departemen
kesehatan, bagaimanapun masalah penyakit mental ini merupakan masalah yang
serius, dan harus ditangani. Bukan hanya tugas pemerintah saja kita sebagai
masyarakat yang menjunjung tinggi asas manusiawi pun harus ikut serta dalam memperjuangkan
keadilan bagi mereka penderita penyakit mental. Mulailah dengan membuka diri, menyingkirkan
ego masing masing, dan mau untuk menjadi pendengar yang baik bagi orang lain. Jangan
pernah mengasumsikan bahwa setiap orang adalah sama, apa yang baik bagi kita
haruslah baik bagi mereka, apa yang kita anggap buruk adalah buruk bagi mereka.
Kita tidak akan pernah tau masalah apa yang menimpa setiap personal atau individu
dalam masyarakat. Untuk itulah prinsip keterbukaan ada sebagai jawaban atas
perbedaan yang secara kodrat melekat pada kita.
Kesimpulan
Masalah
kesehatan mental merupakan salah satu masalah serius yang selalu ditinggalkan
sejak dahulu. Dengan berbagai stigma negatif yang ada, membuat masalah ini kian
memburuk. Film joker belakangan ini begitu mengilustrasikan bagaimana
permasalahan yang terjadi seperti yang disebutkan sebelumnya, meskipun film ini
menuai kritik yang negatif karena dianggap sebuah glorifikasi akan kejahatan. Saya
pribadi tidak menganggap bahwa film ini merupakan legalitas akan kekerasan yang
dilandasi atas dendam, dan depresi yang dialami oleh seseorang. Justru moral value yang dapat saya ambil ialah
bagaimana caranya agar kita tidak menciptakan ‘joker’ yang selanjutnya. Dalam arti
lain, kita harus peduli terhadap mereka para penderita penyakit mental. Cukup dengan
bersedia mendengarkan apa yang mereka suarakan, tidak memandang mereka dengan
stigma negatif, dan menganggap bahwa pada hakikatnya mereka juga manusia
seperti kita.
[1] https://www.imdb.com/title/tt7286456. Diakses pukul 21:51
[2] Mental disorder, Mental Illness,
physiciatric Disorder
[3] Mack E,
et al. Information/education page: Pseudobulbar affect. Archives of Physical
Medicine and Rehabilitation. 2014;95:1599.
[4] Dwi Hadya Jani,“Problematika Kesehatan
Jiwa di Indonesia”, https://katadata.co.id/infografik/2019/10/10/problematika-kesehatan-jiwa-di-indonesia, Kepercayaan masyarakat akan
kurangnya iman membuat seseorang mengalami gangguan mental, Diakses pukul 18:41
[5] Ibid., guna-guna & gangguan roh menyebabkan
gangguan jiwa
[6] Ibid., 91% penderita depresi tidak
berobat
[7] Ibid., perbandingan antara jumlah
psikater dengan pasien yang tidak berimbang.

Comments
Post a Comment