Joker dan 'Tamparannya' pada Kehidupan Masyarakat Dewasa ini


Image result for joker 2019 cover
https://www.imdb.com/title/tt7286456/
Film joker yang baru saja ditayangkan di sinema belakangan ini merupakan salah satu film terbaik bagi saya. Film ini disturadarai oleh Todd Phillips dan disokong oleh serangkaian korporat besar dunia perfilman seperti Warner Bros, Village Roadshow Pictures, dan DC Films. Joker mendapatkan rating 8.9/10 di IMDb[1] (situs review film yang terkemuka). Lantas ‘sehebat’ apakah film tersebut hingga bisa mendapatkan rating sebaik itu? Apakah pantas film ini ditonton oleh masyarakat luas? Adakah korelasinya terhadap kehidupan kita? Adakah pesan moral yang dapat kita petik dari film tersebut?

            Secara garis besar film ini menceritakan kisah seorang komedian yang gagal bernama Arthur Fleck yang mana kisah ini melatarbelakangi perubahan yang besar dalam kehidupannya menjadi seorang ‘Joker’ seorang serial killer yang sadis dimana kebanyakan dari kita berpendapat bahwa sang ‘Joker’ ini tidak memiliki hati nurani dan moral sama sekali.

 Mengapa bisa perubahan yang begitu signifikan ini terjadi? Di dalam film itu diceritakan bahwa Arthur merupakan pengidap mental disorder[2] (kelainan mental/gangguan terhadap mental). Spesifiknya ia merupakan pengidap PBA (Pseudobulbar affect) yang diakibatkan dari kerusakan otak yang dialaminya. Apakah PBA itu? PBA merupakan kondisi dimana seseorang secara tiba-tiba tidak bisa mengontrol tawa & tangisnya[3], hal ini membuat Arthur seringkali tertawa di keadaan yang tidak tepat seperti yang di tunjukan di dalam beberapa scene di film, dimana ia seringkali tertawa yang mana tawanya itu kemudian malah menunjukan kesalahpahaman yang akhirnya berujung kepada konflik.

Kehidupan yang dialami oleh Arthur tidaklah sebahagia seperti badut yang ada didalam pikiran kita, yang selama ini kita kenali bahwa karakter badut ialah penuh tawa, ceria, dan selalu siap untuk menghibur. Film ini merupakan sebuah total turnback dari suatu karakter seorang badut yang diilustrasikan dengan adegan kekerasan secara eksplisit yang dialami oleh Arthur selama mengerjakan profesinya, ia seringkali menghadapi kekerasan secara fisik.

Film ini menurut saya pribadi sangat menjelaskan namun secara implisit bagaimana kehidupan kita saat ini. Hal ini merupakan tamparan keras terhadap isu kesehatan mental yang masih ditinggalkan, dan dianggap tidak begitu penting oleh kebanyakan manusia. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan oleh beberapa pemicu, yaitu sikap tradisional sebagian kelompok masyarakat. Saya seringkali menemukan seseorang yang mengalami mental Illness dan membagikan ceritanya (di media sosial), mereka sering kali diasumsikan tidak dekat dengan tuhan, atau tidak memiliki pegangan religi yang jelas[4]. Padahal, tidak ada korelasi yang begitu jelas antara religiusitas seseorang dengan penyakit mental yang dideritanya, saya memang setuju bahwa agama merupakan salah satu dari sekian jalan yang dapat ditempuh untuk melepaskan kelelahan yang bersifat emosional, dengan kita berdoa, beribadah terhadap yang maha kuasa akan memberikan efek ketenangan hal ini tentu ada kaitannya dengan SQ seseorang, namun. Tidak menutup kemungkinan bahwa seseorang yang sangat religius pun dapat terkena mental illness. Belum lagi pemikiran masyarakat yang konservatif yang mempercayai adanya guna-guna atau kerasukan, terkadang mereka yang menderita gangguan jiwa pun dianggap pengaruh dari guna-guna juga makhluk jahat yang tidak terlihat yang dinamakan iblis[5]. Kebanyakan orang juga cenderung menjauhi mereka yang mengidap penyakit mental dikarenakan sikap yang aneh dan tidak normal bagi mereka. Hal-hal yang sifatnya diskriminatif seperti diatas lah yang sebenarnya ‘berbahaya’, dikarenakan tindakan tersebut berdampak kepada keinginan para pengidap mental untuk mengakhiri hidupnya karena merasa tidak diterima oleh masyarakat dan kehadirannya dalam dunia ini tidak dibutuhkan atau dapat kita kenal dengan istilah suicide.

Tidak sedikit pula orangtua yang melarang anaknya untuk pergi ke psikolog dan psikater dikarenakan persepsi mereka bahwa “ketika anda pergi ke psikolog maka dapat dipastikan bahwa anda gila” hal ini tentu saja keliru, mengigat yang dapat mengetahui secara detail kondisi kesehatan mental kita ialah mereka yang ‘expert’, siapalagi kalau bukan psikolog dan psikater. Data riset juga menunjukan bahwa 91% penderita depresi tidak berobat[6]. Hal ini tentu ada kaitannya dengan apa yang telah saya paparkan sebelumnya. Namun, di sisi tenaga medis juga terdapat kendala yaitu kurangnya kapasitas dalam upaya menangani masalah mental health. Hanya terdapat 1.563 tenaga psikologi klinis di seluruh Indonesia, dan 1 psikater bisa melayani 300-400 ribu orang[7].

Hal ini tentu saja merupakan sebuah tugas besar bagi pemerintah terkhusus departemen kesehatan, bagaimanapun masalah penyakit mental ini merupakan masalah yang serius, dan harus ditangani. Bukan hanya tugas pemerintah saja kita sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi asas manusiawi pun harus ikut serta dalam memperjuangkan keadilan bagi mereka penderita penyakit mental. Mulailah dengan membuka diri, menyingkirkan ego masing masing, dan mau untuk menjadi pendengar yang baik bagi orang lain. Jangan pernah mengasumsikan bahwa setiap orang adalah sama, apa yang baik bagi kita haruslah baik bagi mereka, apa yang kita anggap buruk adalah buruk bagi mereka. Kita tidak akan pernah tau masalah apa yang menimpa setiap personal atau individu dalam masyarakat. Untuk itulah prinsip keterbukaan ada sebagai jawaban atas perbedaan yang secara kodrat melekat pada kita.

Kesimpulan
Masalah kesehatan mental merupakan salah satu masalah serius yang selalu ditinggalkan sejak dahulu. Dengan berbagai stigma negatif yang ada, membuat masalah ini kian memburuk. Film joker belakangan ini begitu mengilustrasikan bagaimana permasalahan yang terjadi seperti yang disebutkan sebelumnya, meskipun film ini menuai kritik yang negatif karena dianggap sebuah glorifikasi akan kejahatan. Saya pribadi tidak menganggap bahwa film ini merupakan legalitas akan kekerasan yang dilandasi atas dendam, dan depresi yang dialami oleh seseorang. Justru moral value yang dapat saya ambil ialah bagaimana caranya agar kita tidak menciptakan ‘joker’ yang selanjutnya. Dalam arti lain, kita harus peduli terhadap mereka para penderita penyakit mental. Cukup dengan bersedia mendengarkan apa yang mereka suarakan, tidak memandang mereka dengan stigma negatif, dan menganggap bahwa pada hakikatnya mereka juga manusia seperti kita.



[1] https://www.imdb.com/title/tt7286456. Diakses pukul 21:51
[2] Mental disorder, Mental Illness, physiciatric Disorder
[3] Mack E, et al. Information/education page: Pseudobulbar affect. Archives of Physical Medicine and Rehabilitation. 2014;95:1599.
[4] Dwi Hadya Jani,“Problematika Kesehatan Jiwa di Indonesia”, https://katadata.co.id/infografik/2019/10/10/problematika-kesehatan-jiwa-di-indonesia, Kepercayaan masyarakat akan kurangnya iman membuat seseorang mengalami gangguan mental, Diakses pukul 18:41
[5] Ibid., guna-guna & gangguan roh menyebabkan gangguan jiwa
[6] Ibid., 91% penderita depresi tidak berobat
[7] Ibid., perbandingan antara jumlah psikater dengan pasien yang tidak berimbang.

Comments

Popular posts from this blog

Manusia dan Covid-19

About Me

Humanity and Religion: Teman atau lawan?